Fed Naikkan Bunga 25 Bps, Warsh Masih Hawkish: Pasar Bersiap Hadapi Kenaikan Berikutnya
Federal Reserve akhirnya kembali menaikkan suku bunga. Dalam rapat FOMC 15–16 September 2026, bank sentral AS menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota FOMC. Fed menyebut aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid, belanja domestik tetap kuat, investasi modal robust, sementara pasar tenaga kerja relatif stabil.
Namun, ada satu masalah yang masih menjadi perhatian utama: inflasi.
Inflasi Masih Tinggi, Fed Belum Mau Longgar
Dalam pernyataannya, Fed menegaskan bahwa inflasi masih berada pada level tinggi. Kenaikan suku bunga dilakukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Sinyal dari proyeksi terbaru juga menunjukkan bahwa kebijakan moneter belum tentu berhenti di level saat ini.
Proyeksi median anggota FOMC menunjukkan suku bunga federal funds berada di sekitar 4,1% pada akhir 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi Juni yang berada di 3,8%.
Yang menarik, 16 dari 18 pejabat Fed memperkirakan masih ada setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi pada 2026.
Warsh Pertahankan Nada Hawkish
Ketua Fed Kevin Warsh juga mempertahankan perhatian pada risiko inflasi. Setelah keputusan tersebut, pasar menangkap komunikasi Fed sebagai sinyal yang relatif hawkish.
Warsh menilai kenaikan imbal hasil obligasi AS lebih banyak mencerminkan kekuatan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan modal, termasuk investasi besar di sektor teknologi, daripada hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan Fed dalam mengendalikan inflasi.
Dengan kondisi tersebut, pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.
Goldman Sachs bahkan mengubah proyeksinya dan memperkirakan Fed dapat kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober.
Dolar Menguat, Emas Sempat Tertekan
Reaksi awal pasar cukup jelas.
Dolar AS menguat hingga mencapai level tertinggi dalam sekitar tujuh minggu. Indeks dolar berada di sekitar 100,3, sementara imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun sempat mencapai sekitar 4,715%.
Kenaikan imbal hasil dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat emas sempat tertekan. Pada Rabu, 16 September, harga emas turun lebih dari 1% dan sempat berada di sekitar US$4.240 per troy ounce.
Namun, pergerakannya tidak berhenti di sana.
Pada Kamis, 17 September, harga emas justru kembali menguat. Reuters mencatat spot gold naik sekitar 1,2% ke US$4.314,64 per troy ounce setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir enam minggu.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa respons pasar terhadap keputusan Fed tidak selalu berjalan satu arah. Ekspektasi suku bunga, dolar, imbal hasil obligasi, harga minyak, dan kondisi geopolitik tetap menjadi faktor yang saling berinteraksi.
Pasar Sekarang Menunggu Langkah Berikutnya
Dengan kenaikan September yang sudah terjadi, perhatian pasar bergeser ke data ekonomi berikutnya.
Inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, harga energi, imbal hasil Treasury, dan komunikasi pejabat Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah kenaikan berikutnya benar-benar terjadi.
Bagi pasar keuangan, pertanyaannya kini bukan lagi sekadar apakah Fed akan menaikkan bunga.
Pertanyaannya adalah: seberapa jauh Fed akan membawa suku bunga untuk memastikan inflasi kembali ke target 2%?
Jawabannya akan sangat bergantung pada data ekonomi yang keluar sebelum pertemuan FOMC berikutnya.